Seumeuleung Raja Lamno Daya

Kawasan ACEH

KABUPATEN ACEH JAYA, Aceh

Aceh adalah salah satu wilayah negara republik Indonesia yang begitu beragam dengan kekayaan alam dan budayanya. Aceh di masa lalu sebenarnya memiliki sejarah yang sangat panjang dan kompleks, terutama dalam perannya membentuk negara kesatuan republik Indonesia kita tercinta ini.

Dominasi Aceh dalam perdagangan dan politik di wilayah itu menguat, dan mencapai puncaknya antara tahun 1610 dan 1640. Karena hidup dalam komunitas terbatas selama beratus-ratus tahun, darah Portugis masih mengalir dalam diri sebagian masyarakat Lamno, terutama yang menetap di Kuala Daya dan Lambeuso serta Ujong Muloh.

Selain identik sebagai daerah asal gadis bermata biru, Lamno juga dikenal sebagai negeri para raja. Tokoh yang sering disebut misalnya Po Teumeureuhom. Bernama lengkap Sultan Alaidin Ri’ayat Syah, dia lah yang membawa Islam menyebar ke kawasan itu.

Po Teumeureuhom berasal dari kerajaan Samudra Pasai. Bersama rombongannya, dia mulai melakukan perjalanan mulai dari Desa Mareu mengikuti arah hulu sungai dan kemudian menyisir kawasan pesisir pantai. Dan rombongannya kemudian berhasil menaklukkan raja-raja kecil disepanjang aliran sungai.

Di kawasan itu, awalnya terdapat kerajaan meliputi kerajaan Lamno, Keuluang Daya, Kuala Unga dan Kuala Daya. Setelah berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil itu, Po Teumeureuhom tak langsung membubarkannya. Namun Wilayah yang ditaklukinya diberikan hak otonomi dan tunduk dalam Kerajaan Daya atau yang dikenal dengan Meureuhom Daya. Sebagai bentuk terima kasih rakyat kepada sang raja, digelar lah upacara Peumeunap dan Sumeuleung. Dalam upacara itu raja disuapi nasi yang berasal dari hasil panen terbaik. Upacara penabalan raja ini kemudian dikenang dan dilangsungkan sampai sekarang setiap tanggal 10 Zulhijjah atau pada hari raya kurban (Idul Adha).

Acara Sumeuleung raja hanya di laksanakan sehari saja, tapi bagi warga yang ingin berziarah ke makam dapat dilakukan setiap hari, meskipun puncak dari para penziarah ke makam Po Teumeureuhom, adalah 3 hari setelah 10 Dzulhijjah. Dimana rangkaiannya, pada acara hari pertama adalah Sumeuleung raja dan hari kedua serta ketiga, berziarah ke makam Po Teumeureuhom.

Prosesi acara ini berupa Sumeuleung raja yang dilakukan dengan menyuapi Raja oleh dayang kerajaan. Setelah itu, Raja Daya menyampaikan amanat tahunan yang berisikan persatuan, adat istiadat  serta hukum di depan majelis dan masyarakat. Adapun makanan yang di hidang di depan raja adalah menu turun-temurun yang berasal dari kerajaan Daya itu sendiri. Seperti lobster, ikan dan daging yang merupakan hasil alam terbaik di daerah Lamno, di hidangkan semua untuk raja sebagai bentuk penghargaan kepada raja di acara ini.


Setelah proses Sumeuleung raja selasai, maka semua hadirin akan di persilahkan untuk menikmati jamuan raja. Para majelis, keluarga dan tamu undangan yang hadir di jamu di balee. Ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara raja dan masyarakat lainnya.


sumber: ranseljak.blogspot.com



Destinasi lain di Kawasan Aceh


Koordinat: 4.7861, 95.6493
Destinasi di Sekitar

KategoriJumlah
Wisata Alam151
Wisata Buatan41
Wisata Budaya52
Taman Nasional7
  • Share Via

Destinasi di Sekitar


Wisata Alam
Wisata Buatan
Wisata Budaya
Taman Nasional