Bubur Sura

Kawasan JAWA BARAT

KOTA CIREBON, Jawa Barat

Bubur Syura adalah sebuah upacara tahunan yang diselenggarakan setiap tanggal 10 Muharam. Upacara ini sama sekali tidak dikaitkan dengan hari Asyura, yakni hari peringatan atas wafatnya Imam Husein (cucu Rasulullah saw) dalam peristiwa di Karbala yang juga diperingati pada tanggal dan bulan yang sama. Upacara tersebut oleh masyarakat justru dikaitkan dengan peristiwa Nabi Nuh as. dan telah berjalan sejak lama. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya juga dikaitkan dengan mitos Nyi Pohaci Sanghyang Sri. Upacara tersebut diyakini masyarakat bisa mendatangkan berkat kesejahteraan dan ketenteraman. Pelaksanaannya mempunyai aturan tertentu dan memerlukan berbagai perlengkapan, antara lain tempat upacara, sesajen, benda-benda keramat, peralatan untuk pembuatan bubur, dan kesenian. Tempat untuk melaksanakan upacara bisa di dalam rumah, di luar rumah, di tanah lapang, atau di tepi sungai, dan sebagainya. Pemilihan tempat pada dasarnya sangat bergantung kepada masyarakat pelaku upacara itu sendiri. Misalnya di luar rumah salah seorang warga yang dianggap mampu untuk melakukan upacara tersebut. Pemilihan tempat tersebut didasari oleh alasan tertentu, yakni karena peserta upacara memerlukan banyak orang. Selain itu, tungku-tungku yang digunakan untuk proses pembuatan bubur benar-benar memerlukan tempat yang cukup luas dan terbuka. Upacara itu menyertakan kesenian Tarawangsa, dan tidak dapat digantikan dengan kesenian apa pun. Lagu-lagu yang disajikan oleh tarawangsa adalah lagu-lagu khusus untuk persembahan kepada para karuhun (roh nenek moyang) dan Kersa Nyai (Dewi Sri). Lagu-lagunya tersusun menjadi tiga tahap: Ngalungsurkeu (mapag), syukuran, dan nginebkeun Kersa Nyai (Dewi Sri). Setelah upacara Ngalungsurkeun yang dilakukan pada malam hari selesai, masyarakat yang hadir pada saat itu diberikan kesempatan untuk menari. Mereka menari secara bergiliran, baik laki-laki maupun perempuan hingga pukul 03.00 dini hari. Dalam menari, antara laki-laki dan perempuan harus dipisahkan menurut pembagian waktu. Perempuan diberikan kesempatan menari pertama kali, yaitu dimulai setelah selesai upacara Ngalungsurkeun hingga pukul 24.00. Setelah itu, kesempatan diberikan kepada kaum laki-laki yang akan berakhir hingga pukul 03.00 dini hari. Upacara pembuatan Bubur Syura itu sendiri dilaksanakan sekitar pukul 08.00 sampai selesai kira-kira sore hari. Berbarengan dengan itu, sebagian di antara peserta upacara menari dalam alunan musik tarawangsa. Salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan upacara ritual Bubur Syura adalah sesaji (Sasajen bhs. Sunda) yang terdiri atas: 1) Hahampangan, yaitu jenis makanan ringan, seperti; opak, waper. 2) Rurujakan: rujak pisang, rujak cuing, rujak jeruk, rujak roti, rujak kalapa, rujak kembang (bunga) kananga, rujak kelapa, rujak nenas, dan rujak asem. 3) Beras, uang logam, cermin, minyak kelapa, kendi, daun hanjuang, parupuyan, cerutu, kipas terbuat dari anyaman, dan kemenyan. Sedangkan bahan-bahan untuk pembuatan Bubur Syura di antaranya: Berbagai macam sayuran, buah-buahan, umbi-umbian, dan berbagai macam ikan. Semua bahan-bahan tersebut dimasukkan, ke dalam beberapa wajan kemudian dimasak dan diaduk sampai matang. Bubur yang telah masak dibungkus dengan daun pisang. Bungkusan bubur tersebut dihitung untuk mendapatkan kepastian tentang jumlah yang telah dibuat. Sedikit-banyaknya bungkusan bubur memberikan makna tertentu, yaitu sebagai tanda, apakah hasil panen yang akan datang akan melimpah atau sebaliknya. Jumlah perolehan bubur juga diumumkan kepada seluruh pendukung upacara. Kemudian bubur sebanyak itu dibagikan kepada seluruh pendukung secara merata dan sisanya dibagikan kepada tetangga terdekat yang tidak bisa hadir pada saat pembuatan bubur. Dengan selesainya pembagian bubur, maka selesailah upacara ritual bubur Syura tersebut. Sumber : Toto Amsar Suanda



Destinasi lain di Kawasan Jawa Barat


Koordinat: -6.6899, 108.4751
Destinasi di Sekitar

KategoriJumlah
Wisata Alam254
Wisata Buatan253
Wisata Budaya274
Taman Nasional9
  • Share Via

Destinasi di Sekitar


Wisata Alam
Wisata Buatan
Wisata Budaya
Taman Nasional