Kawasan Kota Tua Pecinan

Kawasan Joglosemar

KOTA PEKALONGAN, Jawa Tengah

Hubungan antara negeri China dengan Jawa sudah terjalin sejak lama. Berdasarkan catatan sejarah, pada sekitar abad ke-17 pernah ada seorang pengembara dari China bernama Fa-Hien yang sempat singgah di Pulau Jawa, jauh sebelum bangsa Eropa mengetahuinya. Fa-Hien menyebut Ya-va (Jawa) dalam laporan pertamanya tentang keberadaan umt Hindu di Jawa. Sejak saat itu Pemerintah China mengadakan hubungan diplomatik dengan Jawa, sehingga banyak orang China khususnya para pedagang yang singgah di Pulau Jawa termasuk daerah pesisir utara pulau Jawa, di Pekalongan. Berdasarkan catatan naskah kuno Tiongkok “Yi toung Techi” (Geografi Akbar) yang dibuat pada masa Dinasti Ming, Lokasi “Pou-Kia-Lung” berada di negeri Jawa, sebelah timur berbatasan dengan “Negeri yang dipimpin seorang wanita”, sebelah barat dengan kerajaan “Shi-Li-Fout-Shi”(Sriwijaya), sebelah selatan dengan kerajaan Ta-Chi dan sebelah utara dengan kerajaan “Tsiem-Pa”(Campa). Dengan demikian, nama Pekalongan sudah dulu ada, tetapi bukan berasal dari kata “Pau-Kia-Loung, melainkan sebaliknya, istilah Pau Kia Loung diambil dari nama Pekalongan. Catatan sejarah lainnya yang ditulis pada jaman Dinasti Tsung yang berkuasa di China tahun 960-1.279 Masehi juga menyatakan bahwa Pekalongan yang biasa disebut oleh para pedagang China dengan nama “Pu-Kau-Lung”dengan rajanya yang memiliki rajutan rambut di bagian belakang kepalanya, sedangkan rakyatnya bertubuh pendek dan memakai kain tenun berwarna-warni (diduga Batik). Kapal dagang China berlayar (dengan bantuan tenaga angin) dari Kanton pada bulan Nopember dan tiba di Pu-Ka-Long sekitar sebulan kemudian. Munculnya pemukiman di kampung Sampangan merupakan awal perkembangan Pekalongan selanjutnya. Dulunya, Sungai Kupang merupakan pangkalan pelabuhan dagang antar pulau. Kawasan ini dikenal dengan nama “Pintoe Dalam” oleh Pemerintah Kolonial Belanda dan selanjutnya dijadikan kawasan pemukiman khusus warga Tionghoa. Penguasa Belanda membagi-bagi kawasan pemukiman sesuai etnis, bukan dengan tujuan untuk menutup diri dan mencegah pembauran, namun untuk mengontrol populasi dan kriminalitas di Pekalongan. Kawasan untuk warga Tionghoa ini diberi nama “Chinese Wijk”yang terdiri dari wilayah Keplekan Lor (jalan Sultan Agung), Keplekan Kidul (Jalan Hasanudin) dan kawasan Kerimunan (Jalan Salak dan Jalan Manggis). Wilayah Pintoe dalam merupakan akses masuk kampung pecinan di Pekalongan. Pada masa itu, Pintoe Dalam terletak di Pertigaan sebelum Gereja Santo Petrus dan di sana terdapat sebuah bangunan tua (Gapura) milik Kapitan Tionghoa. Peninggalan bangunan bersejarah yang ditinggalkan oleh warga Tionghoa masih dapat kita jumpai hingga saat ini, diantaranya bangunan rumah ibadah (Klenteng Pho an Tian), Bangunan Vihara dan bangunan rumah tinggal yang memiliki gaya arsitektur khas China. Dalam catatan Liem Bwan Tjie (Tokoh pelopor arsitektur modern generasi pertama di Indonesia) menyebutkan bahwa pada tahun 1934 di jalan Juliana Weeg (Jalan Blimbing) terdapat sebuah rumah megah yang di dalamnya terdapa kolam renang milik seorang pengusaha China, saat ini rumah tersebut terdapat di belakang Pasar Banjarsari. Menurut Baliem Subarjo, Tokoh Tionghoa kelahiran Pekalongan, pada tahun 1960-an kawasan Jalan Kerimunan merupakan kawasan pemukiman, bukan kawasan perekonomian seperti saat ini. Meskipun kondisi saat ini sudah bercampur dengan bangunan usaha dan pertokoan, namun beberapa bangunan kuno masih terlihat menarik sesuai arsitektur bangunan aslinya. Sisa-sisa bangunan kuno tersebut masih terus dijaga dan dilestarikan sehingga bisa menjadi kawasan menarik untuk dikunjungi wisatawan untuk melihat langsung kondisi kawasan pecinan Pekalongan pada masa lampau serta untuk menikmati arsitektur gaya bangunan Tionghoa yang bermukim di Pekalongan.



Destinasi lain di Kawasan Jawa Tengah


Koordinat: -6.8841, 109.6736
Destinasi di Sekitar

KategoriJumlah
Wisata Alam263
Wisata Buatan246
Wisata Budaya300
Taman Nasional9
  • Share Via

Destinasi di Sekitar


Wisata Alam
Wisata Buatan
Wisata Budaya
Taman Nasional