Tradisi Sedekah Laut Pek Cun

Kawasan Joglosemar

KOTA PEKALONGAN, Jawa Tengah

Tradisi Pek Cun pada hakekatnya hampir sama dengan tradisi sedekah laut atau Nyadran hanya saja, tradisi ini diselenggarakan oleh warga Tionghoa di Kota Pekalongan. Pada prinsipnya acaranya sama, hanya penyelenggara, isi perahu dan waktunya yang berbeda. Tradisi Pek Cun dilaksanakan oleh masyarakat Tionghoa menurut kalender China pada perayaan tahun baru china atau imlek. Acara yang mengiringi tradisi Pek Cun adalah Pentas seni Barongsai dan kesenian masyarakat china lainnya serta makan bersama dan pelaksanaan berbagai lomba, diantaranya Lomba mendirikan telur ayam mentah. Pada perayaan Pek Cun yang bertepatan pada hari raya Twan Yang ( saat matahari memancarkan cahaya paling keras/ Hari Kehidupan) atau hari raya puncaknya Musim Panas/Summer yaitu hari dimana menurut keyakinan penganut Kong Hu Cu pada hari tersebut saat Twan Ngo (antara jam 11.00 s/d 13.00 siang) tersebut posisi bumi dengan matahari berada dalam keadaan tegak lurus, sehingga hari tersebut begitu penting dan bermakna bagi penganut Kong Hu Cu yang sangat bersyukur atas berkah kehidupan alam semesta yang diberikan Thian, serta sebagai wujud untuk menghormati kebesaran dan keagungan Tuhan. Dan bahkan konon karena keajaibannya pada hari itu ada perubahan signifikan yang terjadi pada keadaan alam khususnya terhadap gaya gravitasi bumi sehingga sebagai contoh, telur mentah pun yang bentuknya oval dapat dibuat dalam posisi berdiri tegak pada permukaan benda apapun yang berbentuk datar. Jumlah wisatawan pada pelaksanaan tradisi Nyadran dan Pek Cun mencapai ribuan orang, yang berasal dari seluruh pelosok Kota Pekalongan dan masyarakat sekitarnya serta wisatawan mancanegara yang kebetulan berada di Kota Pekalongan. Menurut sejarahnya, pada tahun 339 SM - 277 SM hiduplah seorang menteri negara Chu di zaman negara-negara berperang. Ia adalah seorang pejabat yang berbakat dan setia pada negaranya, banyak memberikan ide untuk memajukan negara Chu, bersatu dengan negara Qi untuk memerangi negara Qin. Namun sayang, ia dikritik oleh keluarga raja yang tidak senang padanya yang berakhir pada pengusirannya dari ibu kota negara Chu. Ia yang sedih karena kecemasannya akan masa depan negara Chu kemudian bunuh diri dengan melompat ke sungai Miluo. Ini tercatat dalam buku sejarah Shi Ji. Menurut legenda, ia melompat ke sungai pada tanggal 5 bulan 5. Rakyat yang kemudian merasa sedih kemudian mencari-cari jenazah sang menteri di sungai tersebut. Mereka lalu melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai dengan maksud agar ikan dan udang dalam sungai tersebut tidak mengganggu jenazah sang menteri. Kemudian untuk menghindari makanan tersebut dari naga dalam sungai tersebut maka mereka membungkusnya dengan daun-daunan yang kita kenal sebagai bakcang sekarang. Para nelayan yang mencari-cari jenazah sang menteri dengan berperahu akhirnya menjadi cikal bakal dari perlombaan perahu naga di beberapa kota setiap tahunnya



Destinasi lain di Kawasan Jawa Tengah


Koordinat: -6.8593, 109.6910
Destinasi di Sekitar

KategoriJumlah
Wisata Alam263
Wisata Buatan246
Wisata Budaya300
Taman Nasional9
  • Share Via

Destinasi di Sekitar


Wisata Alam
Wisata Buatan
Wisata Budaya
Taman Nasional